Laporan Wartawan Tribunnews.com, M Zulfikar

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pemerintah diharapkan bisa mendukung perluasan akses informasi yang akurat mengenai produk tembakau alternatif, seperti produk tembakau yang dipanaskan, rokok elektrik, maupun kantong nikotin.

Ketua Asosiasi Konsumen Vape Indonesia (Akvindo), Paido Siahaan menjelaskan, informasi mengenai produk tembakau alternatif saat ini lebih banyak disampaikan oleh pelaku usaha dan asosiasi konsumen, sehingga jangkauannya sangat terbatas. Agar informasi mengenai produk tersebut semakin luas, Paido mengharapkan adanya partisipasi dari pemerintah.

“Pemerintah sebagai regulator sudah saatnya menghadirkan informasi dan memberikan edukasi yang akurat kepada masyarakat,” kata Paido saat dihubungi wartawan, Kamis (30/6/2022).

Baca juga: Turun ke Jalan, Bea Cukai Pantau Harga Transaksi Pasar Rokok Elektrik dan Vape

Saat ini, lanjutnya, kajian ilmiah terhadap produk tembakau alternatif sudah banyak dilakukan baik di dalam dan luar negeri. Namun, hasil riset tersebut belum dimanfaatkan pemerintah dalam menyebarkan informasi kepada publik.

Paido khawatir jika pemerintah tidak kunjung aktif mendorong informasi akurat kepada publik, potensi dan manfaat dari produk tembakau alternatif dalam menciptakan peralihan kebiasaan merokok bagi para perokok dewasa tidak dapat dimaksimalkan.

“Puluhan juta perokok di Indonesia akhirnya tidak mempunyai kesempatan untuk memilih produk tembakau alternatif dengan risiko yang jauh lebih rendah,” tuturnya.

Baca juga: Bahaya Rokok Elektrik dan Rokok Tembakau bagi Kesehatan, Vape Bisa Buat Kejang hingga Paru Rusak

Paido memastikan asosiasi konsumen akan terus menyosialisasikan tentang manfaat dari produk tembakau alternatif kepada masyarakat, terutama para perokok dewasa. Sumber informasi berasal dari sejumlah hasil kajian ilmiah yang sudah dipublikasikan.

“Agar masyarakat mendapatkan informasi yang bisa dipertanggungjawabkan. Masyarakat juga sudah cerdas dalam mencari dan memilih informasi yang mereka butuhkan,” ujarnya.

Dalam kesempatan berbeda, Ketua Koalisi Indonesia Bebas TAR (Kabar), Ariyo Bimmo menyatakan hal yang senada dengan Paido. Menurut dia, penyebaran informasi yang komprehensif mengenai produk tembakau alternatif di publik masih belum masif. Tak hanya itu, informasi yang beredar cenderung keliru, penuh prasangka, dan asimetris.

“Adalah suatu paradoks ketika produk yang semestinya menjadi alternatif yang lebih rendah risiko namun diberitakan sebagai sesuatu yang jangan dipilih,” ucap Bimmo.

Beredarnya informasi yang keliru, penuh prasangka, dan asimetris ini terjadi akibat adanya anggapan dan persepsi bahwa produk tembakau alternatif sama berbahayanya dengan rokok. Hal ini semakin diperkeruh dengan terbatasnya akses dalam penyampaian informasi yang akurat. Diskusi publik untuk membahas tentang produk ini masih minim.

“Perlu peran pemerintah, akademisi, media, organisasi masyarakat, dan profesi khususnya bidang kesehatan untuk menyampaikan informasi yang benar mengenai produk tembakau alternatif sebagai pilihan bagi perokok dewasa untuk beralih. Hal ini perlu disertai dengan informasi tentang profil risikonya yang berbeda dengan rokok,” tutur Bimmo.


Artikel ini bersumber dari www.tribunnews.com.